Senin, 28 Agustus 2017

FKUB Provinsi Gelar Kemah Bhakti Pemuda Lintas Iman

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan bekerjasama dengan FKUB Kabupaten Tanah Laut menggelar Kemah Bhakti Pemuda Lintas Iman, Jum’at (25/08/17) di Desa Binaan FKUB Tajau Pecah.

Dengan mengusung tema Memantapkan Kerukunan dan Kebersamaan Umat Beragama Dalam Ke-Bhinekaan Demi Pembangunan Daerah kegiatan tersebut digelar selama 3 hari 25 s.d 27 Agustus 2017 sekaligus sarasehan  antar tokoh agama.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi Bupati Tala yang diwakilkan Kepala Bappeda Tala H.A.Nizar. Dalam sambutannya  H.A.Nizar memberikan apresiasi kepada semua pihak dan FKUB yang mensukseskan kegiatah tersebut dalam rangka memberikan nilai tambah dalam membina kerukunan umat beragama.

Pihaknya juga berharap kegiatan tersebut selain memberikan nilai positif dalam membina kerukunan umat dan toleransi umat beragama. Pihaknya juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan desa binaan  didaerah.

Dalam kesempatannya Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tala Drs.H.Rusbnadi, MA mengatakan  Kementerian Agama yang memiliki leding sector dalam membina kerukunan umat beragama tentu mengharapkan kegiatan tersebut dapat meningkatka rasa toleransi dan keharmonisan dalam beragama.

Ka.Kankemenag juga menekankan meningkatkan kerukunnan umat beragama tidak hanya peran dan tugas fungsi FKUB akan tetapi lebih kepada individu masing-masing umat, ‘’Semoga kegiatan kemah bakhti ini meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam keberagaman dan melalui kegiatan petemuan antar tokoh menghasilkan pemikiran-pemikiran dalam membangun daerah dalam menjaga kerukunan umat beragama,’’ ujarnya.

Sementara itu, Ketua FKUB Tala melaporkan kegiatan tersebut diikuti 30 orang pemuda dalam kemah bahkti dan 40 orang peserta sarasehan yang berasal dari 5 agama se- Provinsi Kalsel. Acara pembukaan dimeriahkan dengan penampilan tarian payem brahme yang dihadiri Ketua FKUB Provinsi beserta pengurus, Tokoh Agama dan Masayarakat Desa Tajau Pecah.

Adapun rangkaian acara tersebut diisi dengan pembersihan rumah ibadah, penanaman pohon, donor darah, sarasehan serta diskusi.

Minggu, 20 Agustus 2017

Tim Produk Halal Kemenag Kalsel Tinjau RM Tapandang Pelaihari

Tim Produk Halal Kantor Wilayah Kemneterian Agama (Kemenag) Kalsel beserta rombongan meninjau langsung Rumah Makan Tapandang Pelaihari yang akan mendapat usulan pensertifikatan Halal dari MUI, Selasa (15/08/17) Pelaihari.

Kepala Kantor Kemenag Tala Drs.H.Rusbandi,MA dalam kesempatannya menyambut baik dan berterimakasih atas kunjungan Tim beserta rombongan ke Tanah Laut. “Kita berikan apresiasi dan dapat dijadikan contoh bagi UKM ataupun home industry kalangan menengah agar perlu pemberian sertifikat halal,” ujarnya.

Ka.Kankemenag mengharapkan dengan pemberian pensertifikatan label halal tersebut pihak yang bersangkutan dapat melaksanakan segala ketentuan dan pensyaratan yang harul dipenuhi. “Jangan hanya sekedar berlabel halal akan tetapi harus dilaksanakan syarat yang sudah ditentukan, dan tentunya harus dibarengi dengan pengawasan baik dari MUI maupun pihak yang terkait,” imbaunya.

Sementara Kepala Seksi Penyelenggara Syariah H.Abdurrahman, S.Ag mengatakan setelah dilakukan peninjauan kemudian akan diserahkan SK sesuai dengan usulan dengan memenuhi syarat tertentu, diantaranya RM makan tersebut harus menggunakan rempah-rempah atau bahan makanan yang berlabel halal, selain itu tempat RM tersebut harus memenuhi kebersihan dan standar RM yang bersih.
 
Rumah Makan Tapandang yang akan mendapatkan pensertifikatan label halal tersebut beralamat Jl.Samudera Pelaihari. “Semoga dengan adanya pensertifkatan kehalalan tersebut memberikan nilai tambah dan positif kepercayaan masyarakat dalam hal mengkonsumsi,” pungksnya.

Senin, 20 Februari 2017

Seksi PHU Gelar Sosialisasi Perlengkapan Administrasi CJH

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanah Laut melalui Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) menggelar Sosialisasi Perlengkapan Administrasi Calon Jamaah Haji (CJH) Tahun 2017, Kamis (16/02/17) di Mesjid Al-Hijriah Angsau Pelaihari.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Ka.Kankemenag) Kabupaten Tanah Laut H.Rusmadi,S.Ag.,S.Pd.I.,MM dalam arahannya menyampaikan perlengkapan administrasi merupakan langkah awal bagi CJH untuk persiapan melaksanakan ibadah haji.

"Salah satu yang terpenting persyaratan untuk melaksanakan ibadah haji, adanya paspor," tegas Ka.Kankemenag.

Melalui kegiatan tersebut Ka.Kankemenag berharap kepada CJH untuk memanfaatkan semaksimal mungkin, mengerti prosedur syarat dan ketentuan yang sudah berlaku, sedangkan seksi PHU mempunyai tanggung jawab dan tugas untuk membantu dalam persyaratan administrasi, khususnya tata cara pengurusan paspor.

Sementara itu Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi PHU) Kantor Kemenag Tala Drs. H.Akh.Rusyadi mengungkap kegiatan tersebut dalam rangka memberikan pelayanan dan kemudahan dalam memfasilitasi calon jamaah haji tahun 2017 untuk melengkapi berkas terkait tata cara pembuatan paspor.

Lebih lanjut H. Rusyadi menyampaikan ada terdapat beberapa kendala dilapangan yang sering ditemui, yakni kekeliruan dalam data buku nikah. Akan tetapi terang Rusyadi tidak akan menjadi penghalang, selama syarat dan ketentuan sudah terlengkapi. "Ini terlihat semangat antusias masyarakat untuk melengkapi dan mempersiapkan persyaratannya, mereka harus memperbaiki data secepatnya," sampainya.

Pihaknya berharap diakhir bulan februani, semua persyaratan pembuatan paspor sudah selesai yang meliputi, Fotokopi KTP yang masih berlaku 2 lembar, Fotokopi KK sebanyak 2 lembar, Fotokopi Akte kelahiran/ijazah/surat nikah sebanyak 2 lembar dengan kertas A4 dan melampirkan formulir SPRI (PERDIM) dengan menyediakan nama terdiri dari 3 kata.

"Adapun estimasi kouta calon jamaah haji Kabupaten Tala tahun 2017 sebanyak 197 orang dari nomor porsi 1900047194 sampai dengan 1900050674," pungkasnya.
 
Kegiatan tersebut sekaligus pengarahan dari pihak Kantor Imigrasi Banjarmasin sekaligus pengisiian blangko Perdim 11 yang merupakan salah satu persyaratan pembuatan paspor yang diikuti seluruh calon jamaah haji kab. Tala tahun 2017.

Selasa, 07 Februari 2017

Kemenag Tala Verifikasi Data BOS dan PIP

Kementerian Agama (Kemenag) Tanah Laut (Tala) melalui seksi Pendidikan Madrasah (Pendmad) melakukan verifikasi data Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP), Selasa (07/02/17).

Verifikasi dilakukan sesuai dengan surat edaran Kantor Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan terkait adanya Audit yang dilaksanakan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pelaksanaan program pendidikan Islam.

Staff Seksi Pendidikan Madrasah Lisda Umami, S.Pd. mengutarakan dilakukannya verifikasi ulang data tersebut untuk meningkatkan kevalidan data sekaligus merevisi data dan alokasi bagi satker yang kurang.

Dijelaskan Lisda, verifikasi tersebut sebagai dasar dalam menetapkan alokasi dana BOS Tahun Anggaran 2017 sekaligus penerima BOS Tahun Anggaran 2017 dan PIP. ''Selain itu kita dituntut harus mengisi data instrument realisasi pelaksanaaan BOS dan PIP Tahun 2016,'' jelasnya.

Hal senada dikatakan Dwi Hastuti, salah satu staff Seksi Penmad. Menurutnya, data tersebut setelah diverifikasi akan secepatnya dikirim ke Kanwil Kemenag Kalsel. ''Terkait waktu yang diberikan jatuh tempo kamis depan ini kami harap dan pastikan selesai dan data lengkap semuanya,'' pungkasnya.

Data BOS dan PIP yang diverifikasi berasal dari enam Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan 14 MTs Swasta, 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan 8 MA swasta, 5 Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) dan 13 MI Swasta dan 8 Raudhatul Athfal.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kekeliruan Menyambut Tahun Baru Hijriah

Sebentar lagi kita akan memasuki tanggal 1 Muharram. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.
Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram
Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”[1]
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[2]
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.  Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.
Di Balik Bulan Haram
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[3]
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[4]
Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[5]
Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.[6]
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Muharram. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]
Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”
Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).[8]
Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.
Menyambut Tahun Baru Hijriyah
Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?
Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,
لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ
Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”[9] Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[10]
Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.
Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah
Amalan Pertama: Do’a awal dan akhir tahun
Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.
Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.[11]
Amalan kedua: Puasa awal dan akhir tahun
Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً
“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”
Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:
Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]
Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.
Amalan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah
Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau  membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]
Penutup
Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.
Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.[14]
Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”[15]
Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Jumat, 30 September 2016

Habar Kemenag Pulang Pisau

Sabtu, 1 Oktober 2016, 04:03

Bupati Edy Pratowo Sambut Kedatangan Jamaah Haji


Bupati H. Edy Pratowo tengah menyalami jamaah haji saat penyambutan di halaman Kantor Bupati Pulang Pisau, Jum'at (30/9).

Pulang Pisau (Inmas) Setelah melaksanakan rangkaian ibadah haji dan menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi menuju tanah air, akhirnya 32 jamaah haji kabupaten Pulang Pisau tiba kembali di kota Pulang Pisau, Jumat (30/9). Kedatangan para tamu Allah itu disambut langsung oleh Bupati H. Edy Pratowo.
Sebelumnya, jamaah haji harus menempuh perjalanan selama 1,5 jam dari Palangka Raya menuju Pulang Pisau setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi dan proses lainnya di asrama haji Al Mabrur Palangka Raya. Mereka mendarat di bandara Syamsudinnor Banjarmasin pada Kamis (29/9) pukul 23.45 waktu setempat, dan diterbangkan kembali menuju Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya pada Jumat (30/9) sekitar pukul 01.15 WIB.
Saat menyambut kedatangan jamaah haji, H. Edy Pratowo mengucapkan selamat datang kembali di Bumi Handep Hapakat. H. Edy Pratowo mengaku bahagia karena seluruh jamaah haji Pulang Pisau kembali dalam jumlah yang utuh.
"Selamat datang kembali di Bumi Handep Hapakat, dan selamat bertemu kembali dengan keluarga dan kerabat," ucap H. Edy Pratowo yang kala itu didampingi Kakankemenag H. Abd. Khalik dan sejumlah pejabat lainnya.
Setelah berjuang sekuat tenaga menjalankan rangkaian ibadah haji di tanah suci Mekah, para jamaah terlihat datang dalam kondisi sehat meskipun sebagian diantaranya tengah sakit flu dan batuk, dikarenakan perubahan cuaca. Meski begitu, terdapat pula jamaah yang saat keberangkatan harus menggunakan korsi roda, ternyata saat kepulangan sudah mampu berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. (Mardi)

H. MASRANI INGIN FKUB TINGKATKAN KEBERSAMAAN

Pulang Pisau (Inmas) Menjelang akhir tahun menyambut   Perayaan Natal dan Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Tengah d...